Semboyan Bangsa Indonesia Adalah Bhinneka Tunggal Ika: Makna, Sejarah, dan Implementasinya

Semboyan Bangsa Indonesia Adalah

Semboyan Bangsa Indonesia Adalah

Semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Kalimat ini bukan sekadar hiasan atau rangkaian kata tanpa makna, melainkan fondasi filosofis yang mempersatukan lebih dari 1.300 suku bangsa, 718 bahasa daerah, dan enam agama resmi yang tersebar di 17.000 pulau Nusantara.

Secara konstitusional, semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika yang tertuang dalam Pasal 36A Undang-Undang Dasar 1945. Aturan ini menegaskan, “Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika”. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara semakin mengukuhkan kedudukannya sebagai identitas resmi yang melekat pada lambang negara.

Table of Contents

Sejarah di Balik Semboyan Kebangsaan

1. Akar Sejarah dari Masa Kerajaan Majapahit

Semboyan bangsa Indonesia adalah warisan dari abad ke-14. Frasa Bhinneka Tunggal Ika pertama kali muncul dalam sebuah kakawin (syair) Jawa Kuno berjudul Kakawin Sutasoma, karya monumental Mpu Tantular pada masa Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

Kakawin Sutasoma mengisahkan perjalanan Pangeran Sutasoma dalam menyebarkan ajaran toleransi. Yang menarik, kitab ini justru ditulis di kerajaan bercorak Hindu, tetapi dengan sangat indah mengajarkan nilai-nilai toleransi terhadap umat Buddha. Mpu Tantular ingin menunjukkan bahwa meskipun berbeda keyakinan, hakikat kebenaran yang dicari adalah satu.

Kutipan lengkap dalam pupuh 139 bait 5 berbunyi:

“Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” .

Bila diterjemahkan, bait tersebut bermakna bahwa konon Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Para pendiri bangsa, terutama Mohammad Yamin dan Soekarno, terinspirasi oleh semangat toleransi yang terkandung dalam kutipan ini. Mereka menyadari bahwa Indonesia yang baru merdeka membutuhkan sebuah semboyan pemersatu yang mampu merajut keberagaman.

2. Perjalanan Menuju Penetapan Resmi

Dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pertama yang digelar 29 Mei hingga 1 Juni 1945, Mohammad Yamin pertama kali memperkenalkan frasa Bhinneka Tunggal Ika. Menariknya, I Gusti Bagus Sugriwa sontak meneruskan frasa tersebut dengan lanjutan “Tan hana dharma mangrwa”, menunjukkan bahwa para tokoh bangsa saat itu memang akrab dengan kakawin Sutasoma.

Setelah Indonesia merdeka, semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika diresmikan melalui Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 11 Februari 1950. Penguatan legalitas kemudian dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara, yang menyatakan bahwa di bawah lambang NKRI tertulis sebuah semboyan dalam bahasa Jawa Kuno yang berbunyi Bhinneka Tunggal Ika.

Saat ini, dasar hukum semboyan negara tercantum dalam Pasal 36A Undang-Undang Dasar 1945 serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Makna Filosofis Bhinneka Tunggal Ika

1. Arti Linguistik dan Harfiah

Untuk memahami kedalaman makna semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, mari kita bedah secara etimologis. Frasa ini terdiri dari tiga kata dalam bahasa Jawa Kuno:

  • Bhinneka berasal dari kata bhinna yang berarti terpisah atau berbeda, dan ika yang berarti itu. Secara keseluruhan, bhinneka berarti beraneka ragam atau berbeda-beda .
  • Tunggal berarti satu .
  • Ika berarti itu .

Secara harfiah, Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan menjadi “Beraneka Satu Itu” atau yang lebih populer dengan ungkapan “Berbeda-beda tetapi tetap satu” .

Dalam beberapa literasi, kamu juga akan menemukan tambahan kata “jua” di belakangnya, sehingga menjadi “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Kata “jua” dalam konteks ini berarti “saja” atau “juga”, yang berfungsi sebagai penegas .

2. Makna Kontekstual bagi Bangsa Indonesia

Secara lebih mendalam, semboyan negara Indonesia adalah pernyataan sikap untuk hidup berdampingan dalam perbedaan dan menjadikan keberagaman sebagai nada-nada yang menghasilkan harmonisasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia .

Beberapa makna penting yang terkandung dalam semboyan ini antara lain:

1. Keberagaman yang Bersatu

Semboyan ini mengajarkan bahwa keberagaman budaya, agama, dan suku bangsa yang ada di Indonesia harus dihargai dan dijadikan kekuatan untuk mempersatukan bangsa . Keberagaman bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan justru menjadi modal sosial yang memperkaya khazanah nasional.

2. Toleransi dan Saling Menghormati

Nilai fundamental yang kedua adalah pentingnya toleransi dan saling menghormati antar-sesama manusia, terlepas dari perbedaan yang ada . Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan, pendapat, atau latar belakang bukanlah alasan untuk saling memusuhi.

3. Persatuan dalam Perbedaan

Meskipun terdapat perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan, Bhinneka Tunggal Ika menegaskan bahwa bangsa Indonesia tetap satu kesatuan yang kokoh dan tidak terpecah belah.

4. Landasan Persatuan dan Kesatuan

Semboyan ini berfungsi sebagai landasan filosofis bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, menjadi perekat yang mengikat seluruh elemen bangsa dalam satu ikatan kebangsaan.

5. Penanaman Loyalitas dan Nasionalisme

Tujuan akhir dari semboyan ini adalah menanamkan rasa loyalitas dan nasionalisme dalam batin masyarakat Indonesia, sehingga kecintaan terhadap tanah air tidak luntur meskipun dihadapkan pada berbagai perbedaan.

Implementasi Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Perilaku Inklusif dalam Masyarakat

Semboyan bangsa Indonesia adalah pedoman yang harus kamu terapkan dalam interaksi sosial sehari-hari. Perilaku inklusif menjadi wujud nyata dari pemahaman terhadap semboyan ini. Kamu tidak boleh mengutamakan kepentingan diri sendiri atau kelompok tertentu di atas kepentingan bersama.

Dalam konteks bermasyarakat, perilaku inklusif berarti membuka diri terhadap perbedaan dan tidak memandang rendah pihak lain. Ketika kamu bergaul dengan teman yang berbeda suku atau agama, kamu tetap menjalin silaturahmi tanpa prasangka. Sikap ini mencerminkan pemahamanmu bahwa semboyan negara Indonesia adalah landasan untuk saling menghargai.

2. Menumbuhkan Semangat Keberagaman

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pluralisme tertinggi di dunia. Kamu hidup di tengah masyarakat yang terdiri dari berbagai bangsa, ras, budaya, suku, agama, hingga adat istiadat.

Untuk menerapkan Bhinneka Tunggal Ika, kamu perlu memiliki kesadaran bahwa keberagaman adalah sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Yang bisa kamu lakukan adalah menjadikan keberagaman sebagai kekayaan, bukan sumber konflik. Saat kamu bertemu dengan seseorang yang berbeda keyakinan, misalnya, kamu tidak perlu merasa canggung atau curiga. Sebaliknya, kamu dapat menjadikan perbedaan tersebut sebagai sarana untuk saling belajar dan memperkaya wawasan.

3. Menghindari Sikap Menang Sendiri

Dalam setiap interaksi sosial, pasti ada perbedaan pendapat. Penerapan semboyan bangsa Indonesia adalah tercermin ketika kamu mampu menghormati berbagai pendapat yang disampaikan orang lain. Perbedaan pendapat yang muncul harus dicari titik temunya, bukan justru dijadikan ajang adu kuasa.

Sikap tidak menang sendiri juga berarti kamu tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Dalam kehidupan bermusyawarah, misalnya di lingkungan RT atau organisasi kemasyarakatan, kamu perlu mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan .

4. Membudayakan Musyawarah

Musyawarah merupakan mekanisme yang tepat untuk menyelesaikan perbedaan. Ketika kamu terlibat dalam musyawarah, kamu sedang mempraktikkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Dalam forum musyawarah, berbagai perbedaan pendapat dipertemukan untuk mencapai mufakat.

Musyawarah mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertajam, melainkan untuk dicari solusi terbaik bagi semua pihak. Inilah esensi dari “tetap satu” dalam keberagaman.

5. Memupuk Rasa Kasih Sayang dan Rela Berkorban

Bhinneka Tunggal Ika tidak akan terwujud tanpa adanya rasa kasih sayang antarsesama anak bangsa. Kamu perlu menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa, yang diwujudkan dalam sikap rela berkorban tanpa pamrih.

Rela berkorban bisa dalam bentuk sederhana, seperti meluangkan waktu untuk kegiatan sosial, menyumbangkan tenaga untuk kepentingan umum, atau bahkan sekadar berbagi dengan tetangga yang membutuhkan. Semua tindakan kecil ini, jika dilakukan dengan kesadaran, akan memperkuat persatuan bangsa.

6. Menjaga Toleransi dalam Perbedaan

Toleransi menjadi kata kunci dalam implementasi Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan negara Indonesia adalah pengingat bahwa kamu harus bersikap toleran terhadap perbedaan agama, suku, ras, dan antargolongan .

Toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan atau meleburkan identitas. Toleransi justru menghargai identitas masing-masing sambil tetap menjalin kerukunan. Kamu dapat memulai dengan hal sederhana, seperti tidak mengganggu ibadah pemeluk agama lain, menghormati hari raya mereka, atau sekadar mengucapkan selamat tanpa ikut campur dalam keyakinannya.

Tantangan terhadap Bhinneka Tunggal Ika di Era Modern

1. Ancaman Radikalisme dan Intoleransi

Di era digital seperti sekarang, semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika menghadapi berbagai tantangan serius. Radikalisme dan intoleransi menjadi ancaman nyata yang dapat memecah belah persatuan. Paham-paham yang mengatasnamakan agama atau suku tertentu sering kali muncul dan mengganggu harmoni sosial .

Kamu perlu waspada terhadap konten-konten provokatif di media sosial yang sengaja menyebarkan kebencian antarkelompok. Hoaks dan ujaran kebencian berbasis SARA masih sering beredar dan berpotensi memicu konflik horizontal.

2. Disintegrasi Sosial dan Konflik Horizontal

Sejarah mencatat beberapa konflik horizontal yang pernah terjadi di Indonesia, seperti kerusuhan Ambon, konflik Poso, atau tragedi Sambas. Semua konflik tersebut berakar pada lemahnya pemahaman dan penerapan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika .

Ketika masyarakat mudah terprovokasi oleh isu-isu perbedaan, maka semboyan bangsa Indonesia adalah hanya akan menjadi hiasan tanpa makna. Kamu dan generasi muda lainnya memiliki tanggung jawab untuk memastikan sejarah kelam tersebut tidak terulang kembali.

3. Erosi Nilai-nilai Kebangsaan di Kalangan Generasi Muda

Globalisasi membawa pengaruh besar terhadap cara pandang generasi muda. Budaya asing yang masuk tanpa filter dapat menggeser nilai-nilai kebangsaan yang selama ini dijunjung tinggi. Banyak anak muda yang lebih bangga dengan budaya luar dibanding budayanya sendiri .

Padahal, kebanggaan terhadap identitas nasional merupakan fondasi penting dalam menjaga persatuan. Jika kamu tidak bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang beragam, maka kamu akan mudah terpengaruh oleh paham-paham yang bertentangan dengan Bhinneka Tunggal Ika.

Peran Generasi Muda dalam Menjaga Bhinneka Tunggal Ika

1. Menjadi Duta Toleransi di Lingkungan Sekitar

Kamu dapat memulai peran sederhana namun bermakna dengan menjadi duta toleransi di lingkungan sekitar. Di sekolah atau kampus, kamu bisa mengajak teman-teman untuk saling menghormati perbedaan. Ketika ada teman yang berbeda agama sedang beribadah, kamu dapat memfasilitasi atau setidaknya tidak mengganggunya.

Di lingkungan tempat tinggal, kamu bisa aktif dalam kegiatan sosial yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Kerja bakti, posyandu, atau kegiatan keagamaan bersama dapat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antarsesama.

2. Menggunakan Media Sosial untuk Menyebarkan Pesan Positif

Media sosial bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia dapat menyebarkan kebencian dengan cepat. Namun di sisi lain, kamu bisa memanfaatkannya untuk menyebarkan pesan-pesan toleransi dan persatuan.

Ketika kamu menemukan konten provokatif yang berpotensi memecah belah, kamu bisa melawannya dengan konten positif yang meneguhkan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, dan kamu dapat menjadikannya sebagai tagline dalam setiap konten yang kamu produksi.

3. Mempelajari dan Mengapresiasi Keberagaman Budaya

Salah satu cara terbaik untuk menghargai keberagaman adalah dengan mempelajarinya. Kamu bisa memulai dengan mengenal lebih dalam budaya daerahmu sendiri, lalu melanjutkan dengan mempelajari budaya daerah lain.

Apresiasi terhadap keberagaman budaya juga bisa diwujudkan dengan bangga menggunakan produk-produk lokal, mempelajari tarian tradisional, atau sekadar mencoba kuliner khas dari berbagai daerah di Indonesia. Semakin kamu mengenal kekayaan budaya Indonesia, semakin dalam pula rasa cintamu terhadap tanah air.

Refleksi Akhir: Bhinneka Tunggal Ika sebagai Jiwa Bangsa

Semboyan bangsa Indonesia adalah lebih dari sekadar frasa yang tertulis pada pita putih yang dicengkeram burung Garuda. Ia adalah napas yang menghidupkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman tapi komitmen bersama bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan justru anugerah yang memperkaya identitas nasional.

Perjalanan sejarah membuktikan bahwa bangsa ini mampu bertahan dan bersatu karena memiliki fondasi filosofis yang kuat. Dari masa Kerajaan Majapahit, melalui perjuangan kemerdekaan, hingga era reformasi seperti sekarang, Bhinneka Tunggal Ika tetap relevan sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Tantangan ke depan tentu tidak akan semakin ringan. Arus globalisasi, radikalisme, dan intoleransi akan terus menguji ketahanan persatuan bangsa. Namun, jika setiap warga negara, termasuk kamu, mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari, maka tidak ada kekuatan yang mampu memecah belah Indonesia.

Sebagaimana para pendiri bangsa telah mewariskan semboyan agung ini, sekarang giliranmu untuk menjaganya, merawatnya, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Karena pada akhirnya, Indonesia yang kuat dan bersatu adalah tanggung jawab kita bersama.

Bagaimana pendapatmu tentang penerapan Bhinneka Tunggal Ika di lingkungan sekitar? Apakah kamu memiliki pengalaman menarik tentang toleransi dan keberagaman yang ingin dibagikan? Jangan lupa untuk mengunjungi website BAMS untuk mendapatkan artikel-artikel inspiratif lainnya seputar pendidikan kebangsaan dan wawasan nusantara.

Baca juga:

Referensi

  1. Mansyur, H. A. M., Ramadhani, F. F., Aulia, A. N., Mahya, A. F. P., Indah, B. S. N., Lestari, D. P., & Santoso, G. (2023). Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa Indonesia dari dahulu sampai sekarang. Jurnal Pendidikan Transformatif2(2), 183-194.
  2. Dewantara, A. W. (2019, November). Bhinneka Tunggal Ika sebagai model multikulturalisme khas Indonesia. In Seminar Nasional Keindonesiaan (FPIPSKR) (pp. 396-404).
  3. Supriatin, A., & Nasution, A. R. (2017). Implementasi pendidikan multikultural dalam praktik pendidikan di Indonesia. Elementary: Jurnal Iilmiah Pendidikan Dasar3(1), 1-13.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apa bunyi semboyan bangsa Indonesia yang lengkap?

Semboyan bangsa Indonesia adalah “Bhinneka Tunggal Ika”. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang secara harfiah berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Dalam beberapa sumber, kamu juga akan menemukan tambahan kata “jua” di belakangnya, sehingga menjadi “berbeda-beda tetapi tetap satu jua” yang berfungsi sebagai penegas.

2. Di mana letak semboyan Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara?

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika tertulis pada pita putih yang dicengkeram oleh kaki burung Garuda Pancasila. Pita tersebut digambarkan melengkung dan bertuliskan semboyan dengan huruf Latin berwarna hitam. Posisinya tepat di bawah perisai yang menjadi lambang Pancasila.

3. Siapa yang mengusulkan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara?

Mohammad Yamin adalah tokoh yang pertama kali mengusulkan frasa Bhinneka Tunggal Ika dalam sidang BPUPKI pertama pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Dalam kesempatan tersebut, I Gusti Bagus Sugriwa kemudian meneruskan dengan kalimat “Tan hana dharma mangrwa”. Soekarno juga turut mengusulkan frasa ini saat perancangan lambang negara Garuda Pancasila setelah kemerdekaan.

4. Apa makna Bhinneka Tunggal Ika bagi persatuan Indonesia?

Bhinneka Tunggal Ika memiliki makna fundamental sebagai landasan persatuan dalam keberagaman. Semboyan ini menegaskan bahwa meskipun bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa, budaya, bahasa daerah, ras, dan agama yang berbeda-beda, pada hakikatnya mereka tetap satu kesatuan, yaitu bangsa dan negara Indonesia. Semboyan ini juga berfungsi sebagai perekat sosial dan pencegah konflik horizontal.

5. Bagaimana cara menerapkan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari?

Kamu dapat menerapkan Bhinneka Tunggal Ika melalui beberapa cara sederhana: (1) bersikap toleran terhadap perbedaan agama, suku, dan pendapat; (2) tidak memaksakan kehendak kepada orang lain; (3) mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan masalah; (4) bergaul dengan siapa saja tanpa membedakan latar belakang; (5) bangga menggunakan produk dan budaya lokal; (6) aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan; serta (7) menolak segala bentuk ujaran kebencian dan provokasi berbasis SARA .

Scroll to Top